News Update :

Kisah Kiyai Hasan Saifourridzall

Thursday, May 30, 2013

Nishful Qolby
Kisah Kiyai Hasan Saifourridzall
Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong


Di antara pesantren besar di kawasan Jawa belahan timur, Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, termasuk di dalamnya. Pesantren tersebut memadukan unsur salaf dan khalaf serta bercita-cita membentuk santri yang utuh secara intelektualitas dan spritualitas. Dan pesantren itu, oleh kiainya, akan dibentuk semacam “plaza”, yang serba ada. Anehnya, ia keberatan bila disebut pesantren modern.

Siapa yang membentuk konsep dasar pendidikan dan menggagas pesantren plaza ala Kiai Genggong itu? Dialah KH. Hasan Saifourridzall, yang sebelum hajinya bernama Non Akhsan. Dalam pandangan Kiai Saifour, Pesantren Genggong akan dibentuk semacam plaza, karena disiplin keilmuan yang dimiliki para santri cukup beragam dan tidak boleh sama. Disiplin keilmuan mereka harus sesuai dengan konteks sosial dan potensi dirinya.

Gagasan tersebut amat menarik dan sesuai dengan konsep pesantren ideal. Sebab pesantren yang ideal adalah pesantren yang sesuai dengan konteks sosial ia berada serta pesantren yang mampu memelihara tradisi yang baik dan mengembangkan sesuatu yang lebih baik. Sehingga keberadaan pesantren sangat dirasakan manfaatnya oleh para santri dan masyarakatnya. Kalau tidak, maka pesantren tersebut akan dilibas zaman dan ditinggal mereka begitu saja.

Kiai Saifour juga menggagas karakteristik para santri, dengan membuat motto “Santri” yang cukup menarik. Yaitu, “Santri” kepanjangan dari Sopan santun, Ajek (istiqamah), Nasihat, Taqwallah, Ridlallah, dan Ikhlas lillahita’ala. Karakteristik yang enam tersebut, ia kuatkan dengan beberapa nash keagamaan.

Buku “KH. Hasan Saifourridzall: Pejuang, Pendidik, dan Teladan Umat” yang ditulis secara jamaah oleh santri Genggong ini, akan mengupas agak mendetail tentang kiprah Kiai Saifour.

Kiai Saifour tidak hanya menggagas pendidikan pesantrennya, tapi ia juga melakukan beberapa pembenahan dan pembangunan di pesantrennya. Ia mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Ia pun menggagas “wajib tribahasa”, yang mengharuskan santri Genggong berkomunikasi dengan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Ia juga berusaha mengembangkan wawasan para santri, dengan membuka dan menyediakan media informasi bagi para santri. Tak lupa, ia membekali para santrinya dengan beberapa keterampilan dengan cara membuka Balai Latihan Kerja (BLK).

Yang menarik, Kiai Saifour juga menginginkan para santrinya selalu segar bugar. Ia tak menginginkan santri Genggong sakit-sakitan sehingga mengganggu proses belajar. Karena itu, ia membangun kolam renang, mewajibkan senam pagi setiap hari Jum’at, dan lari pagi sejauh 3 km setiap hari Selasa. Langkah-langkahnya tersebut, barangkali, cukup menarik dan kontroversial pada saat itu. Apalagi, ia hanya seorang pengasuh pesantren tradisional di daerah yang fanatik memegang teguh tradisi.

Sebagai seorang pengasuh pesantren, Kiai Saifour juga aktif di organisasi NU. Apalagi, sang aba, Kiai Muhammad Hasan termasuk orang yang merintis NU di daerah Probolinggo. Bahkan sang aba, pernah diminta tolong secara langsung oleh Kiai Hasyim Asy’ari untuk menyosialisasikan NU di sana. Karena itu, Kiai Saifour sangat giat di NU. Ia menjabat Rais Syuriah PCNU Probolinggo dan pernah sebagai Rais Tsani PWNU Jatim.

Kiai Saifour juga pernah terjun ke kancah politik praktis, melalui payung Golkar. Ia sempat menjadi anggota MPR 1987-1992. Sayang sekali, dalam buku itu masih belum digambarkan secara mendalam mengapa ia tertarik masuk Golkar. Begitu pula alasan-alasan dan dampaknya bagi masyarakat. Padahal, saat itu banyak kiai dan masyarakat yang menyayangkan jalan yang ditempuh Kiai Genggong itu.

Kalau dunia politik oleh sebagian masyarakat dikatakan sebagai seni kemungkinan (the art of the possible) dan puisi sebagai dunia kemungkinan (the world of the possible) maka Kiai Saifour agaknya menggabungkan dua kemungkinan tersebut. Ia tergolong kiai pecinta seni. Bahkan ia amat gemar menggubah syair-syair yang sahdu baik dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Di antaranya, “Doa Syahdu”, “Penyesalan”, dan “Mars Pesantren”. Ia juga mendorong para santri putrinya untuk rakaman bersama Joni Iskandar, penyanyi dangdut yang pernah nyantri di Genggong.

Salah satu kelemahan buku ini, terletak pada teknik pengungkapan yang kurang memikat; suatu kelemahan yang kerap menimpa penulis pemula. Misalnya bisa kita lihat, para penulis terkesan terlalu “memberitahu” dan kering penggambaran terhadap karakter dan tindakan sang tokoh. Sedang teknik pengungkapan yang baik dalam kepenulisan adalah jangan beritahu tapi gambarkanlah! (don’t tell but show!).

Begitu pula, masih sering terjadi pengulangan isi materi atau suatu materi yang sebenarnya lebih menarik bila dijadikan satu. Hal ini memang kerap terjadi pada suatu buku yang dikerjakan secara jamaah. Sedangkan editornya masih kurang jeli menangkap hal itu.

Atau ini, yang terasa ganjil dan mengganjal: penulisan materi pada bab yang kurang tepat. Misalnya saja, materi tentang ikatan santri dan alumni Pesantren Zainul Hasan (Tanaszaha) dan hubungan kiai dengan masyarakat yang dimuat pada bab Birru Al-Walidaini.

Namun terlepas dari kelemahan tersebut, kehadiran buku ini patut kita acungi jempol juga. Sebab buku ini akan semakin menambah koleksi kehadiran buku yang mengungkap biografi kiai pesantren tempo dulu yang masih teramat langka. Apalagi, penulisnya juga para santri yang masih beranggapan dunia kepenulisan sebagai dunia asing yang teramat sulit terjamah.
(Dimuat Aula, Maret 2006)


Judul : KH. Hasan Saifourridzall: Pejuang, Pendidik, dan Teladan Umat
Penulis : Ainul Yaqin dkk
Penerbit : Genggong Press, September 2005
Tebal : xxii + 204 hlm
 
Sumber: http://goessyam.blogspot.com/2009/05/kisah-kiai-genggong.html
الحمد لله Terima kasih atas kunjungan Anda di BLog---> nishfulqolby.blogspot.com
0 Comments
Tweets
Komentar

0 komentar:

 

© Copyright Nishful Qolby 2013 | Design by ANR-CHan | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.